Kebahagiaan bergantung kepada sarapan yang menyenangkan ~ John Gunther
Latar Belakang
INDONESIA adalah bangsa besar dan bermartabat, yang sedang berproses menuju pada cita-cita luhur Para Pendiri Bangsa, untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dalam pasang surut proses yang dijalani hingga saat sekarang, telah banyak hal dicapai dan disyukuri. Dimulai dengan deklarasi Kebangkitan Indonesia, yang ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo pada bulan Mei 1908, memberi makna bahwa dalam rentang waktu 100 tahun telah dilakukan upaya para anak bangsa untuk mengisi dan memberi nilai pada perjuangan dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Kita tetap pantas bersyukur terhadap hasil dan pencapaian hingga saat ini, namun ada juga hal-hal mendasar yang harus dicermati dengan seksama, yaitu masalah kemiskinan dan pengangguran.
Jumlah penduduk miskin dan pengangguran yang terus bertambah, pada gilirannya akan mengakibatkan terjadinya kerawanan pangan yang berujung pada kelaparan. Para pakar mendefinisikan rawan pangan sebagai wujud dari minimnya ketersediaan pangan, kurangnya akses terhadap pangan dan mata pencaharian, buruknya kesehatan dan gizi, serta kerentanan terhadap bencana alam. Secara lebih spesifik, sedikitnya ada 6 (enam) hal yang menjadi penyebab utama terjadinya kerawanan pangan, yaitu:
o 1. Rendahnya daya beli, yang berakibat pada menurunnya asupan pangan.
o 2. Keterbelakangan infrastruktur.
o 3. Fasilitas air minum bersih dan kesehatan yang tidak memadai.
o 4. Rendahnya keanekaragaman makanan pada masyarakat yang berpenghasilan rendah.
o 5. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan.
o 6. Bencana alam yang berulang.
Beberapa fakta yang ada menunjukkan bahwa dalam dunia yang memproduksi pangan lebih dari cukup untuk populasinya, terjadi hal-hal berikut:
o Setiap 5 (lima) detik, seorang anak di bawah umur 10 tahun meninggal karena kelaparan.
o Lebih dari 2 (dua) miliar penduduk dunia, menderita kelaparan tersembunyi, atau biasa disebut juga dengan kekurangan gizi mikro.
o Banyak anak-anak dan orang dewasa, mengalami hambatan dalam perkembangan fisik dan mental, terlahir cacat dan keterbatasan lain, sehingga menjadi kelompok yang terpinggirkan.
o Kelaparan terjadi berulang dari generasi ke generasi.
o Para ibu yang kurang gizi, akan melahirkan anak-anak dengan perkembangan kurang optimal.
Di tingkat rumah tangga, kerawanan pangan pada umumnya disebabkan oleh minimnya akses karena lokasi tempat tinggal yang terpencil, serta rendahnya daya beli untuk memenuhi kecukupan pangan. Sedangkan pada individu dapat dimulai dari kondisi kurang gizi pada janin yang belum dilahirkan, kelak akan lahir sebagai bayi dengan berat badan rendah, yang pada akhirnya akan tumbuh menjadi anak-anak dan orang dewasa yang kekurangan gizi. Secara khusus, kelompok individu dengan kondisi tersebut, dapat diklasifikasikan sebagai The Lost Generations, atau generasi yang hilang. Sangat memprihatinkan, mengingat jumlah kelompok ini cukup besar di Indonesia. Berdasarkan data yang ada, balita usia 0-5 tahun sebanyak 1,4 juta jiwa masuk ke dalam kategori rawan gizi. Bahkan jika dikaitkan dengan angka kemiskinan, sedikitnya ada 19 juta penduduk Indonesia - data dari Bank Dunia menunjukkan 49 juta jiwa - yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Kita semua sadar bahwa kemiskinan adalah cikal bakal dari kekurangan gizi, dan menurut para pakar, anak yang kekurangan gizi berpotensi kehilangan IQ antara 10-13 poin. Kondisi ini merupakan masalah serius, dan bila dibiarkan berlarut-larut, dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, Indonesia akan dipenuhi oleh warga dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bawah standar.
Fakta lain yang terjadi saat sekarang, bahwa masalah kerawanan gizi dan kesehatan, ternyata juga menjadi milik kelompok masyarakat strata menengah ke atas. Perbedaan umum dengan kelompok sebelumnya, terletak pada skala kuantitas dan aspek penyebab, yaitu buruknya gaya hidup. Realita menunjukkan bahwa penyakit stroke, jantung, kanker, dan berbagai penyakit degeneratif lain, terjadi karena kesalahan pada pola makan, asupan gizi, dan gaya hidup yang tidak sehat.
Masalah gizi menjadi faktor penting, karena akan sangat menentukan kesehatan dan kecerdasan seorang individu anak bangsa. Menyadari kenyataan yang terjadi dan berangkat dari kepedulian pada sesama anak bangsa, maka sekelompok warga negara merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu hal luhur bagi bangsa tercinta. Dengan kesatuan sikap positif dan keyakinan kuat akan manfaat karya bagi sesama, dibentuklah Yayasan JARIBU (JARIBU Foundation), sebagai wadah yang dapat mensinergikan semua potensi yang ada.
Masalah gizi dan kesehatan, serta pendidikan, menjadi titik tolak dan landasan pijak bagi Yayasan JARIBU untuk Membangun Indonesia yang Lebih Baik (Building a Better Indonesia).
© Yayasan JARIBU Nusantara, 2008